Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Hal itu disebabkan suhu air laut yang masih tinggi dibanding suhu di darat. Selain itu, perubahan arah mata angin juga mempengaruhi atas perubahan musim yang tidak bisa ditebak.  "Biasanya sudah kemarau. Sebenarnya perubahannya terjadi secara global," kata dia.

Ia pun mewanti-wanti masyarakat Rembang agar senantiasa mewaspadai atas gejolak alam yang bakal terjadi. Karena, hal itu bisa menyebabkan bencana alam. Seperti tanah longsor maupun banjir bandang. "Contohnya longsor dan banjir bandang yang terjadi di Sale Rembang dan Tempaling, Pamotan beberapa waktu lalu," ungkapnya.

Hal itu, kata dia, dikarenakan kontur tanah masih becek, yang seharusnya mengering karena musim kemarau akan tetapi terus diguyur hujan. Maka kondisi tanah menjadi labil. “Itu yang bisa menyebabkan tanah longsor," katanya.
Fenomena tersebut, katanya, lazim disebut kemarau basah. Ia menjelaskan, sudah waktunya kemarau namun hujan masih saja mengguyur. "Kalau orang Jawa bilang udan salah mongso (hujan salah musim)," ujar dia.Ia pun mewanti-wanti setiap warga Rembang agar tetap waspada dengan kondisi yang ada saat ini. Karena, menurutnya, bencana bisa terjadi kapan saja dengan kondisi iklim yang sangat susah untuk ditebak.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler